Syarat Jual Beli Yang Dihalalkan, Termasuk Apakah Anak dibawah umur halal untuk Berdagang

Posted on 1,839 views

Syarat Jual Beli Yang Dihalalkan, Termasuk Apakah Anak dibawah umur halal untuk Berdagang – Syarat- syarat keabsahan jual beli pasti harus meliputi syarat pelaksana akad dan syarat barang. lebih je;asnya ada pembeli dan penjual di sertai barang yang akan di perjual belikan.

Syarat Jual Beli Yang Dihalalkan, Termasuk Apakah Anak dibawah umur halal untuk Berdagang
jual beli barang dalam kardus

Syarat orang yang melaksanakan akad jual beli

Keduanya sama- sama ridha, tidak terdapat faktor paksaan. Bila salah satu di antara mereka terpaksa, Sehingga akad jual- beli itu tidak sah. Allah Azza wa jalla berfirman:

يٰٓاَيُّهَاالَّذِيْنَاٰمَنُوْالَاتَأْكُلُوْٓااَمْوَالَكُمْبَيْنَكُمْبِالْبَاطِلِاِلَّآاَنْتَكُوْنَتِجَارَةًعَنْتَرَاضٍمِّنْكُمْۗ

Hai orang- orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesamamu dengan jalur yang batil, kecuali dengan jalur perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kalian.( Qs an- Nisâ’/ 4: 29)

Rasulullah Shallallahu’ alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَاالْبَيْعُعَنْتَرَاضٍ

Jual beli itu cuma bisa terjadi seandainya didasari dengan keridhaan masing- masing( HR. Ibnu Hibbân, Ibnu Mâjah serta yang lain( Diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah, nomor. 2180 serta Ibnu Hibbân nomor. 4967( lAl- Mulakhhash Al- Fiqhiy, Syaikh Shâlih Fauzân, 2/ 9)

Kecuali jika alasan paksaaan itu dapat dibenarkan. Misalkan, seseorang hakim yang mengharuskan orang yang mempunyai tanggungan hutang buat menjual beberapa barang yang ia miliki buat melunasi hutangnya. Sehingga ini diperbolehkan.

Baca Juga : Beberapa Konsep Usaha Bisnis Nabi Muhammad SAW yang Layak Diteladani Umat Islam 

Orang yang melaksanakan akad jual beli itu merupakan orang yang berwenang melaksanakannya. Syaikh Muhammad bin Shâlih al- Utsaimîn Rahimahullahuta’ ala menarangkan kalau seorang disebut berwenang bila ia mempunyai 4 sifat yakni merdeka, baligh, berakal sehat serta rasyîd( Rasyiid artinya pandai dalam mengelola harta bendanya, tidak menghamburkannya pada hal- hal yang diharamkan ataupun pada sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat( Lih. Syarhul Mumti’ 8/ 110).

Sehingga akad yang dilakukan oleh orang yang tidak penuhi kriteria diatas dinyatakan tidak sah.

Gimana dengan akad jual beli yang dilakukan oleh anak kecil

Syaikh Muhammad bin Shâlih al- Utsaimîn Rahimahullahuta’ ala, berkata:“ Transaksi yang dilakukan oleh orang pandir serta anak kecil itu tidak sah tanpa izin walinya, walaupun remaja yang berumur 14 tahun, pandai serta bagus dalam jual beli.” Beliau  berdalil dengan firman Allah Azza wa jalla:

وَابْتَلُواالْيَتٰمٰىحَتّٰىٓاِذَابَلَغُواالنِّكَاحَۚفَاِنْاٰنَسْتُمْمِّنْهُمْرُشْدًافَادْفَعُوْٓااِلَيْهِمْاَمْوَالَهُمْۚ

dan uji anak yatim itu hingga ia mampu buat nikah. Sesudah itu kalau menurut pendapatmu mereka sudah pintar( pandai memelihara harta), Hingga serahkanlah kepada mereka harta- hartanya.( Qs an- Nisâ’/ 4: 6)( Syarhul Mumti’, 8/ 110)

Beberapa Ulama Berpendapat:

  • jual beli yang dikerjakannya tidak sah, baik dengan izin wali terlebih tanpa izin. 
  • bila wali memberikan izin, hingga akad jual belinya sah. pendapat ini dipegang oleh Imam Ahmad, Ishâq, Abu Hanîfah, ats- Tsauriy. Sedangkan Ibnul Mundzir Rahimahullahuta’ ala mengaitkan pendpat Imam Ahmad serta Ishâq dengan beberapa barang yang kecil saja.
  • boleh walaupun tanpa izin. Ini merupakan riwayat dari Abu Hanifah.

Anak kecil ke walinya. Allah Azza wa jalla berfirman.


فَاِنْكَانَالَّذِيْعَلَيْهِالْحَقُّسَفِيْهًااَوْضَعِيْفًااَوْلَايَسْتَطِيْعُاَنْيُّمِلَّهُوَفَلْيُمْلِلْوَلِيُّهٗبِالْعَدْلِۗ

Bila yang berhutang itu orang yang lemah akalnya ataupun lemah( keadaannya) ataupun ia sendiri tidak sanggup mendiktekannya, hingga hendaklah walinya mendiktekannya dengan jujur.( Qs al- Baqarah/ 2: 282)

Dengan demikian, jika terdapat orang yang melaksanakan akad jual beli pada benda yang bukan miliknya, hingga akad itu tidak sah, walaupun yang melaksanakan transaksi itu seseorang ayah pada barang yang jadi hak kepunyaan anaknya.

Syaikh Muhammad bin Shâlih al- Utsaimîn Rahimahullahuta’ ala berkata:“ Bila terdapat yang mengatakan: Bukankah Rasulullâh Shallallahu’ alaihi wa sallam bersabda: Kalian serta hartamu merupakan kepunyaan ayahmu.” Kami katakan:

‘ Benar, tetapi bila seseorang ayah hendak menjual harta barang anaknya, hingga hendaklah ia memilikinya terlebih dulu, setelah itu sesudah jadi hak miliknya baru dijual.”

Syaikh Shâlih Fauzân membawakan sebagian contoh jual- beli yang dicoba oleh orang yang tidak mempunyai barang ialah, seseorang pembeli tiba kepada seseorang penjual buat mencari sesuatu barang. Sedangkan barang yang dicari tersebut tidak terdapat pada penjual itu. 

Sesudah itu antara penjual serta pembeli sama- sama setuju buat melakukan akad serta memastikan harga dengan dibayar kini maupun nanti, sedangkan itu barang belum jadi hak milik pedagang ataupun si penjual. Pedagang tadi kemudian berangkat membeli barang dimaksud dan menyerahkan kepada sang pembeli.

Jual- beli semacam ini hukumnya haram, sebab sang pedagang menjual sesuatu yang barangnya tidak terdapat padanya, serta menjual suatu yang belum jadi miliknya, jika barang yang diinginkan itu sudah ditentukan.

Baca Juga : Hukum Bisnis Atau Transaksi Secara Online Halal / Haram? 

Syarat benda yang diperjual belikan

Benda yang diperjual belikan itu ialah benda yang secara mutlak boleh dimanfaatkan bagi syari’ at dalam segala keadaan. Ini berarti, jual beli benda yang diharamkan bagi syari’ at itu tidak sah. Misalnya jual beli khamr, babi, alat- alat musik, bangkai serta lain sebagainya. Rasulullâh Shallallahu’ alaihi wa sallam bersabda:


إِنَّاللَّهَوَرَسُولَهُحَرَّمَبَيْعَالْخَمْرِوَالْمَيْتَةِوَالْخِنْزِيرِوَاْلأََصْنَامِ

Sebetulnya Allah serta RasulNya mengharamkan jual beli khamr, bangkai, babi serta patung( Muttafaq‘ alaih)

Dalam hadits Abu Daud:

إِنَّاللَّهَحَرَّمَالْخَمْرَوَثَمَنَهَاوَحَرَّمَالْمَيْتَةَوَثَمَنَهَاوَحَرَّمَالْخِنْزِيرَوَثَمَنَهُ

Sebetulnya Allah Azza wa jalla mengharamkan khamr serta hasil penjualannya, mengharamkan bangkai serta hasil penjualannya, mengharamkan babi serta hasil penjualannya.( HR Abu Dâwud, nomor. 3485, dari Abu Hurairah Radhiyallahu’ anhu)

Pula tidak boleh memperjual belikan minyak yang najis maupun yang tercampur najis. Rasulullâh Shallallahu’ alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّاللَّهَعَزَّوَجَلَّإِذَاحَرَّمَشَيْئًاحَرَّمَثَمَنَهُ

Sebetulnya bila Allah sudah mengharamkan suatu, hingga Allah pula mengharamkan hasil penjualannya( HR Abu Dâwud serta Ahmad)

Dalam suatu hadits yang disepakati keshahîhannya, Rasulullah Shallallahu’ alaihi wa sallam ditanya:


يَارَسُولَاللَّهِأَرَأَيْتَشُحُومَالْمَيْتَةِفَإِنَّهُيُطْلَىبِهَاالسُّفُنُوَيُدْهَنُبِهَاالْجُلُودُوَيَسْتَصْبِحُبِهَاالنَّاسُ

Bagaimana pendapatmu tentang lemak bangkai? sebetulnya lemak ini dapat dipergunakan buat mewarnai perahu, melembabkan kulit serta menyalakan lampu. Rasulullah Shallallahu’ alaihi wa sallam menanggapi:“ Tidak boleh. Itu benda haram.”

Benda yang diperjualbelikan itu dapat diserahterimakan. Sebab menjual benda yang tidak dapat diserahterimakan sama saja dengan tidak ada, sehingga tidak sah diperjualbelikan. Misalnya, jual- beli hewan yang lepas, burung di udara, benda yang dirampas, sementara yang memiliki tidak sanggup mengambilnya.

Benda serta alat tukarnya telah diketahui oleh 2 orang yang melaksanakan transaksi jual- beli. 

Bila terjadi transaksi, padahal salah satu pelaksana transaksi tidak mengenali barangnya ataupun alat tukarnya, berarti terdapat ketidaktahuan serta ketidaktahuan( ketidakjelasan) itu merupakan gharar. Sedangkan jual- beli yang memiliki faktor gharar yang berpotensi memunculkan perselisihan dilarang dalam Islam serta tidak sah. Tetapi bila faktor gharar( ketidakjelasan- pent) ini sedikit, sehingga tidak berpotensi memunculkan perkara di masa yang bakal tiba, sehingga jual- beli itu sah.

Dengan menguasai ketentuan ini pula kita bakal mengenali ketidak halalan akad pada benda yang tidak jelas, semacam jual- beli mulâmasah( sentuhan). Misalnya, sang penjual berkata,“ Baju manapun yang engkau sentuh, hingga engkau dapat membayarnya dengan harga sekian.”

Jual beli munâbadzah, sang penjual berkata,“ Baju manapun yang engkau lemparkan kepadaku, hingga bakal aku bayar dengan harga sekian.”

 

Dalam suatu hadits shahîh, Abu Hurairah Radhiyallahu’ anhu berkata:

أَنَّرَسُولَاللَّهِصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَنَهَىعَنْالْمُلاَمَسَةِوَالْمُنَابَذَةِ

Rasulullah Shallallahu’ alaihi wa sallam melarang dari jual beli mulâmasah serta jual beli munâbadzah( HR al- Bukhâri, nomor. 2146 serta Muslim, nomor. 3780)

Seperti itu beberapa ketentuan jual- beli, bila salah satu di antara syarat- syarat ini tidak ada, sehingga akad jual- beli itu tidak sah serta digolongkan ke dalam jual- beli yang terlarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *